Page 8 - SILSILAH BANI SYUHADA
P. 8

Kami sebut pertemuan ini lebih heterogen karena dari seluruh putera-puteri Embah
                 Kyai H Syuhada yang 17 orang (dari Kyai Muh Rachmat s/d Nyai Kamilah), hampir semuanya
                 terwakili oleh masing-masing keturunannya. Misalnya Bani Rachmat diwakili cucunya Bapak
                 Anwar Bin H A Nadhir (dari Kupang - NTT, yang kebetulan ada tugas di Jakarta). Sambil
                 menyampaikan sambutan dan memperkenalkan diri, Bapak Anwar berdiri didepan para hadirin
                 peserta, dan di belakang beliau berdiri  cucu-cucu Embah Rachmat dan keluarganya.
                 Perwakilan dari putera-puteri Kyai H Syuhada yang lainnya pun melakukan hal yang sama
                 secara berurutan dari Bani Rachmat s/d Bani Kamilah. Dengan demikian para peserta yang
                 hadir dapat lebih mengenal satu sama lain. Subhanallah peristiwa ini benar-benar mengharukan
                 dan menyentuh hati kami yang paling dalam.

                          Dari dua pertemuan keluarga besar Bani Syuhada di rumah Bapak H Amin Hartoni
                 dan di rumah Bapak H Muh Lutfi, kami terinspirasi untuk menulis buku silsilah yang lebih
                 lengkap dan up to date. Memang telah ada beberapa sumber data silsilah tertulis tentang Bani
                 Syuhada, tetapi pada umumnya data tersebut data lama, ada yang tetera tahun 1989, 1997,
                 2000 dan yang terbaru tertulis tahun 2002. Pada sebagian kecil data  silsilah ada yang
                 mencantumkan  udeg-udegnya Embah Syuhada. (  Udeg-udeg adalah salah satu tingkatan
                 keturunan ke bawah. Urutan keturunan ke bawah : anak, cucu, cicit/buyut, canggah, udeg-
                 udeg, gantung siwur, dst). Menurut pantauan penulis, semestinya saat ini sudah ada
                 keturunan Embah Syuhada yang mencapai tingkatan gantung siwur (buyutnya buyut), tetapi
                 sebagian besar data yang ada adalah baru sampai pada tingkatan  cucu ataupun  buyut.
                 Misalnya : Embah Syuhada berputera H Muh Muqoddas  (anak) berputera H Muh Luthfi
                 (cucu); atau Embah Syuhada berputera Ky Muh Nuh (anak) berputeri Nyai Siti Nafisah (cucu)
                 berputera Moch Sholahuddin (buyut). Oleh karena itu kami mengharap peran serta dari para
                 pembaca khususnya anggota keluarga besar Bani Syuhada untuk memberikan masukan, saran
                 dan kritik demi melengkapi buku yang sedang kami susun ini.

                          Sesungguhnya dengan data yang adapun cukup memberi semangat untuk menyusun
                 buku silsilah ini. Untuk waktu dekat ini yakni s/d sebelum pertemuan yang direncanakan bulan
                 Maret/April 2008 yang akan datang, kami menargetkan s/d tingkatan ke bawah  canggah
                 Embah Syuhada buku ini telah siap didistribusikan. Kami sudah dapatkan data secara tatap
                 muka dan per telepon dan meyantumkannya dalam buku ini sebagai subsilsilah Bani Syuhada,
                 antara lain dari Bani Rachmat dan Bani Abu Ngamar. Alhamdulillah kelengkapan datanya
                 telah sampai tingkat  canggah, nama suami/isteri, alamat dan nomor telepon/Hp, namun
                 demikian masih ada beberapa yang belum lengkap.

                          Tampilan isi buku silsilah ini diharapkan mudah dipahami oleh pembacanya karena
                 menggunakan bagan atau flowchart dan untuk  penjelasannya dicantumkan catatan kaki.
                 Namun demikian kami menyadari bahwa masih banyak kelemahan dan kekurangan dalam
                 penulisan buku ini. Pada umumnya pada nama orang sesudah kata bin/binti diikuti nama orang
                 tua laki-laki, namun dalam tulisan ini sesudah bin/binti juga diikuti nama orang tua perempuan
                 demi menjaga kejelasan garis keturunan. Kami juga merasa tidak konsisten dalam menuliskan
                 predikat dan titel akademis di depan atau dibelakang nama-nama orang. Semula akan
                 dituliskan nama-nama saja tanpa embel-embel secara konsisten, tetapi atas dasar data yang ada
                 dan pertimbangan sopan santun adat ketimuran hal ini rasanya kurang mengena. Misalnya
                 untuk mencantumkan nama Embah Syuhada dengan Syuhada saja rasanya kok tidak pantas.
                 Oleh karena itu yang kami tuliskan adalah Ky H Syuhada. Selanjutnya untuk para sesepuh
                 laki-laki dituliskan predikat Kyai (Ky) dan untuk perempuan yang sudah menikah Nyai (Ny).
                 Untuk laki-laki yang sudah menikah dengan predikat Bapak atau Pak sedangkan untuk yang
                 belum menikah tanpa predikat kecuali predikat H (Haji) dan predikat akademis, demikian
                 pula berlaku untuk remaja perempuan yang belum menikah/anak-anak perempuan. Namun
                 prada prakteknya masih banyak predikat-predikat yang belum tercantumkan karena minimnya
                 data ataupun kelalaian yang tidak disengaja oleh penulis.

                          Kekurangan lainnya adalah dalam penulisan nama-nama orang yang sudah
                 meninggal. Perlukah dibelakangnya ditulis almarhum/humah bagi yang sudah meninggal?
                 Kalau harus ditulis, dari data dan kenyataan yang ada, maka predikat tersebut akan memenuhi




                                                                                                          vii
   www.BaniSyuhada.info
   3   4   5   6   7   8   9   10   11   12   13